ci luk ba

under the table and dreaming

#21

buku : Rosihan Anwar |  Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia ed. 1
lagu : Sore | Pergi Tanpa Pesan

Tidak banyak pencatat penulis sejarah dengan kualitas seperti Rosihan Anwar di ranah kesusastraan Indonesia. Tak mengherankan bila kabar kepergian beliau layaknya tamparan yang membekas pada muka literatur nusantara. Indonesia sekali lagi telah kehilangan putra terbaiknya. Petite Histoire adalah satu karya yang menjadi pegangan untuk mencintai negara ini. Saat membaca buku ini, saya kerap bergumam, “Mengapa bukan Petite Mémoire?.” Luapan cerita nyata yang terjadi di beberapa daerah nusantara tergarap dengan apik, melepaskan diri dari lantunan paparan sejarah yang tidak bernyawa menjadi peranti yang mencatat ingatan ‘masa kecil’. Lalu mengapa petite? Karena beliau menganggap kisah-kisah penting yang membentuk watak daerah tersebut umumnya luput dari rekaman sejarah.

Sejumlah peristiwa langu yang masih terasa asing terkuak dalam tulisannya. Pengalaman masyarakat Pulau Nias dibawah kudeta Nazi Jerman, munculnya bibit-bibit yang membentuk TNI, dan cerita lainnya belum menjadi pemahaman yang lumrah dalam masyarakat. Dalam edisi perdana ini, pembaca dapat menelaah dalamnya karakter dan keistimewaan itu. Keluh dan peluh menghadapi pertikaian selama tiga zaman dirajut menjadi memoir perjalanan yang berliku.

Pada 1909, Letnan H.J Schmidt mendapat perintah untuk melenyapkan teungku-teungku terakhir Di Tiro yang bertahan di gunung-gunung sekitar Tangse. Baru pada Mei 1910 ia dapat mengetahui tempat persembunyian Di Tiro. Dalam suatu penyergapan sebelas pejuang Aceh tewas, di antaranya seorang cucu Di Tiro, yaitu Saman. Bapaknya, Mayet Di Tiro dan abangnya, Di Buket, sempat lolos tapi kemudian Teungku Di Buket meninggal dunia karena luka-luka. Teungku Mayet Di Tiro ditemukan pada bulan September dan ditembak mati. Pada 1911 makin banyak anggota keluarga Di Tiro yang gugur. Letnan Schmidt dengan pasukan marsose-nya membunuh semua anggota laki-laki keluarga Di Tiro, kecuali dua orang anak yaitu seorang laki-laki berusia enam tahun dan seorang bayi berusia lima bulan.

Sejarah berjalan terus.

Peliknya persoalan yang dialami dihadirkan secara lugas dengan pembahasaan yang luar biasa lentur menyamarkan seringai kebencian terhadap roda politik yang payah. Karyanya seakan menghantam para (seolah-olah) pemimpin—atau bahkan kepada khalayak umum—dengan satu pertanyaan besar:

Kenalkah kalian dengan sesuatu yang seharusnya kalian wakili?

Ya. Beliau menulis sejarah, bukan mencatatnya. Karena tanpa tulisannya, sejarah tidak akan lengkap—dan malah untuk sebagian, tidak akan ada.

Selamat jalan, Pak Ros.

#30hari30buku30lagu

blog comments powered by Disqus