ci luk ba

under the table and dreaming

#15

buku : Pramoedya Ananta Toer | Bumi Manusia
lagu : Gamelan Jawa (Gamelan, Saron dan Bonang) | Babar Lajar

Sedikit klarifikasi, tulisan ini dibuat bukan lantaran serentetan protes dari teman-teman yang mencibir bahwa nantinya komitmen #30hari30buku30lagu ini akan dibanjiri bahasa Inggris dan bahwa saya tidak cinta Indonesia karenanya (terima kasih, lho.. kalian baik sekali ya). Saya banyak melahap buku-buku asing awalnya hanya karena determinasi ayah yang menginginkan anaknya fasih berbahasa Inggris. Namun setelah sekian lama, saya—tanpa bermaksud sombong—kesulitan untuk mencerna literatur tanah air. Dan saya malu.

Awalnya, Pram harus melafalkan isi buku kepada seorang teman karena tidak diizinkan membuat tulisan semasa berada dibalik jeruji Buru. Dari tempat itulah lahir Tetralogi Buru dengan Bumi Manusia sebagai buku pertama. Cerita ini digawangi oleh Minke, sosok priyayi Jawa yang duduk di bangku Hollands Burgelukse School. Mencoba merambah perhelatan dunia barat sebagai acuan pengetahuan dan budaya, Minke diselimuti kesenjangan terhadap status pribuminya yang bergumul dengan sekumpulan paras campuran maupun Totok (asli Eropa). Keluwesannya bersuara layaknya sang panutan, Douwes Dekker, berhasil mengambil perhatian kalangan terpelajar dan menampik label pribumi yang kerap menghadangnya untuk maju. Jiwa Eropanya terpukul saat bertemu Nyai Ontosoroh, seorang pribumi ayu dengan kecerdasan yang jauh di atas wanita Eropa. Bersamanya, Minke mendobrak keluar dari kepompong kejawaan yang ujub.

Feodalisme menumbuhkan rasa antipati Pram terhadap langgam Jawa terdahulu. Segregasi strata sosial dianggapnya terlalu pongah terutama melalui sikap jumawa dari kalangan ningrat serta tuntutan rakyat biasa untuk selalu bertekuk lutut di hadapan mereka. Kerakyatan terbelah antara pamong praja (to govern) dan jelata (be governed). Dan pemecahan tersebut mengebat hingga turun-temurun. Meskipun jejaknya masih jelas tersisa, sistem kenegaraan penuh cela ini sempat digerus dengan emansipasi akan kesetaraan dimana tonggak pertama ditegakkan saat Revolusi Perancis, sebuah konsep yang diagungkan Minke. Nyai Ontosoroh juga dilukiskan sebagai pribadi yang menolak langgam tersebut. Baginya hal tersebut adalah pencerminan cerita hidupnya yang mau tidak mau disematkan dengan titel gundik akibat penindasan Belanda yang enggan mengakuinya sebagai ibu sah dari anak-anaknya serta pelecehan dengan menolak menyetarakan dirinya sebagai manusia terpelajar.

Penuturan sosok Minke sarat akan pengalaman RM Tirto Adhi Soerjo, tokoh pendiri Sarekat Priyayi yang bagi Pram merupakan organisasi nasional pemuka di jaman kolonial. Berlatar penjajahan Belanda, buku ini sangat lekat dengan keadaan negara terkini. Tangga ningrat memang sudah luntur, namun kewenangan kaum mayoritas masih disalahgunakan dalam melancarkan kekuatan untuk menghimpit kaum marjinal. Pembelajaran tentang wacana hidup yang humanis saya kenyam berkat buku ini. Sejujurnya tidak banyak penulis nusantara yang dapat berdampak terhadap saya sebagaimana yang Pram lakukan. Pengejawantahan ideologi yang rumit dibahasakan dengan sangat lentur dan sederhana sehingga mampu mengetuk hati segala kalangan pembaca.

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain.”      

Sebuah pelajaran untuk negara terangkum dalam 500 halaman.

#30hari30buku30lagu

blog comments powered by Disqus